#maksudnya salam amanah !!!! Hehehe..
This is featured post 1 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
This is featured post 2 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
This is featured post 3 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
Kamis, 05 Januari 2012
Pemuda Kehilangan Bolpoint
Apa itu Bolpoint??
Bolpoin atau bolpén (bahasa Inggris:
ballpoint) adalah alat tulis yang ujungnya menggunakan bola kecil yang
berputar untuk mengontrol pengeluaran tinta kental yang disimpan dalam
kolom berbentuk silinder. Ujung bolpen berupa bola kecil dari kuningan,
baja, atau tungsten karbida yang diameternya berbeda-beda, umumnya 0,7
hingga 1,2 mm.[1] Besar diameter bola berpengaruh pada ketebalan tulisan
di atas kertas. Tinta kering dalam seketika setelah bersentuhan dengan
kertas. Bolpoin berbeda dengan pulpen, bolpoin berharga murah dan bebas
pemeliharaan.
Awalnya, alat tulis yang
menggunakan tinta adalah pena dan tinta yang digunakan terpisah. Pena
yang digunakan pada awalnya dibuat dari bulu angsa seperti yang lazim
digunakan di Eropa pada abad pertengahan, batang alang-alang air yang
digunakan di Timur Tengah atau bahkan kuas yang digunakan di Cina dan
Jepang. Kelemahannya adalah penggunaannya sering merepotkan para
pemakainya karena tintanya berceceran atau bahkan tumpah di atas kertas.
Bolpoin diciptakan oleh jurnalis
Hungaria, László Biró pada tahun 1938. Biro memperhatikan bahwa tinta
yang digunakan dalam percetakan surat kabar mengering dengan cepat dan
tidak meninggalkan noda pada kertasnya. Kesulitan-kesulitan lain saat
menggunakan pena untuk mengoreksi naskah-naskah yang ditulis pada kertas
tipis seperti tinta yang melebar, tumpah atau kertas yang sobek karena
sabetan pena yang cukup tajam.
Ujung sebuah bolpoin
Bersama saudara lelakinya
George, seorang kimiawan, dia mengembangkan ujung pen yang baru berupa
sebuah bola yang dapat berputar dengan bebas pada sebuah lubang. Saat
berputar, bola tersebut akan mengambil tinta dari sebuah kartrij, tinta
membasahi bola kecil yang mengalir secara kapiler dan dengan bantuan
gravitasi. dan kemudian menggelinding agar melekatkannya pada kertas.
Karena bola kecil itulah maka pena baru itu dinamakan ball point pen
atau yang lazim dikenal dengan nama bolpoin.
Rancangan ini kemudian
dipatenkan di Argentina pada 10 Juni 1943 dan dijual dengan merek
Birome, yang masih bertahan hingga saat ini
Analisis
Seiring dengan perkembangan alat tulis, dalam hal ini adalah bolpoint, tentu kita sangat dimanjakan dalam menulis. Apa pun predikat kita saat ini, entah siswa, mahasiswa, pekerja, kasir, atau apa pun yang tidak lepas dari bolpoin, ada satu pertanyaan yang mungkin sangat menggelitik. Pernahkah kita membeli bolpoin dan kita memegangnya hingga tintanya habis?? Jarang kita menyadari dan menghitung sudah berapa banyak bolpoin yang kita beli sejak awal kita mengenal alat ini. Saya yakin jawabannya adalah tidak terhitung. Tidak terhitung bukan karena habis kita pakai untuk menulis karena saking kreatifnya kita atau saking banyaknya pekerjaan kita yang membutuhkan bolpoin, tetapi karena HILANG.
Hilang? Iya kalau bolpoin kita memiliki harga ratusan ribu atau jutaan rupiah? Rata-rata bolpoin yang dipakai masyarakat pada umunya adalah standar saja, paling mahal juga Rp. 5.000,00. Tapi kenapa bisa selalu hilang. Sebenarnya bukan hilang, lebih tepatnya bisa dikatakan katut (jawa : terbawa). Sudah pasti yang membawa adalah teman atau orang yang sering atau sedang berinteraksi langsung dengan kita dan orang itu juga membutuhkan alat tersebut. Entah itu karena lupa, bolpoinnya mirip, atau karena terburu-buru sehingga terbawa. Ada lagi penyebab yang sedikit menjengkelkan, yakni karena bolpoin kita dipinjam seseorang kemudian dipinjamkan lagi pada orang lain.
Hidup ini adalah masalah kebiasaan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Mario Teguh, "Sifat itu adalah sikap yang dibiasakan." Termasuk kebiasaan untuk tidak amanah terhadap barang teman termasuk dalam masalah bolpoin. Jika sejak kecil ditanamkan untuk peduli dan menghargai kepemilikan orang lain, tentu kasus kehilangan bolpoin tidak akan banyak terjadi. Kita akan lebih menjaga hak orang lain. Bahkan jika menemukan bolpoin tergeletak, kita akan mencari dan bertanya siapakah pemiliknya.
Coba kita bayangkan, jika dalam 1 bulan kita bisa membeli sampai 2 buah bolpoin akibat hilang, sejak SD sudah berapa bolpoin yang telah kita beli? Itu baru bolpoin, belum pensil, penghapus, penggaris dan lain-lainnya yang sudah merupakan kebutuhan vital setiap orang di masa ini. Sudah berapa juta rupiah yang bisa dijaga jika hal seperti itu tidak terjadi? Alangkah baiknya jika uang-uang tersebut disedekahkan kepada anak-anak yatim yang jauh lebih membutuhkan sarana sekolah.
Terakhir, mari senantiasa menjaga dan menghargai barang milik orang lain. Membiasakan diri amanah itu indah. Mulai dari diri kita sendiri, harus ada yang sadar. Untuk mengubah suatu kebiasaan memang tidak mudah. Tapi akan lebih sulit jika tidak ada satu pun yang bergerak. Semoga bermanfaat dan menjadi inspirasi untuk berhemat dan efisien bolpoin.
Salam Bolpoin untuk pemuda !!!
#maksudnya salam amanah !!!! Hehehe..
#maksudnya salam amanah !!!! Hehehe..
sumber : http://id.wikipedia.org
Selasa, 03 Januari 2012
Pemuda Harus Mata Duitan
Uang adalah alat tukar dan alat pembayaran yang sah. Sebelum adanya uang, pembayaran dilakukan secara barter. Uang merupakan simbol dari sebuah nilai. Sedangkan nilai adalah merupakan unsur vital yang terkandung pada suatu benda atau suatu hal. Katakanlah, sebatang kayu dewandaru, kayu dewandaru karena jenis dan manfaatnya, orang secara subjektif akan menganggap itu suatu hal yang bernilai. Dari beberapa subjektivitas itu kemudian dikumpulkan menjadi sebuah objektivitas penilaian. Dengan adanya uang, objektivitas itu dikonversikan berdasarkan nilai uang. Misalnya Rp. 75.000,00 per batang kecilnya.
Jadi sebenarnya yang bernilai adalah kayu dewandaru tersebut, bukan uangnya. Di sini uang hanya sebagai nilai simbolik dari benda tersebut. Jika kita memahami ini, maka kita akan paham. Orang banyak uang itu belum tentu kaya. Karena itu hanyalah sekedar simbol. Orang yang mempunyai uang Rp. 100.000,00 tetapi hanya mempunyai rumah tipe kecil bisa jadi lebih miskin daripada tukang becak yang penghasilannya Rp. 20.000,00 per bulan tetapi memiliki sepetak sawah. Hal ini mungkin terjadi saat nilai tukar mata uang rupiah terhadap dollar menurun drastis sebagaimana yang terjadi pada saat krisis moneter pada beberapa tahun silam.
Karena itulah, ada istilah bahwa uang itu bukan segalanya. Cuma istilah ini hanya akan terapresiasi secara aktual oleh orang-orang tertentu yang paham dan memiliki idealisme mengenai pengertian uang dan dunia. Sedangkan orang yang gemar mengejar dunia dan tidak memiliki ilmu mengenai substansi kekayaan akan beranggapan bahwa uang adalah segalanya. Berbagai cara akan dilakukan untuk mendapatkan uang. Yang keren adalah manipulasi atau korupsi, yang paling jelek adalah nyuri ayam kemudian dijual atau nyuri sarung orang yang sedang dijemur kemudian digadaikan. Gila kan? uda nyuri, digadaikan pula.
Namun bagaimana pun idealisme terhadap uang, pada realitasnya memang uang bisa dikatakan dibutuhkan untuk segalanya. Dengan uang semua bisa dilakukan. Ijasah bisa dibeli, kekuasaan bisa didapatkan, dukungan dan keamanan bisa dimiliki, hukum bisa dipermainkan, pemuas nafsu (PSK atau gigolo) bisa dengan mudah didapatkan, bahkan istri yang sangat cantik pun bisa digaet sekalipun suaminya jelek, buluk, pendek, cebol, hitam, keriput, hidup pula. Asal ada UANG. Inilah realitas di mana uang menjadi sebuah motor penggerak segala hal. Sedangkan subjek pemilik uang adalah driver yang mengendalikan.
Dengan peran uang yang sangat urgen inilah, jadilah pemuda yang mata duitan. Mungkin kata-kata ini sedikit tabu dan terdengar aneh bagi pembaca. Sebentar, mari kita telaah bersama makna kata ini. Sebagaimana yang kita tahu, bahwa Indonesia dulu dijajah oleh belanda selama kurang lebih 350 tahun, kemudian oleh Jepang 3,5 tahun, belum lagi penjajahan oleh bangsa-bangsa lain dan kerusuhan paska kemerdekaan. Penjajahan secara fisik mengarahkan rakyat dan bangsa indonesia sebagai pekerja keras, bahkan kerja paksa. Realita inilah yang kemudian menjadi dogma secara tidak langsung, bisa diakatakan sebagai penjajahan idealisme rakyat indonesia untuk menjadi seorang PEKERJA keras. Sedangkan penjajah sebagai bos yang menikmati hasil jerih payah darah dan kelaparan rakyat pribumi.
Doktrin ini begitu mengakar kuat, sampai-sampai di sekolah dan di rumah selalu ada nasihat, kamu harus bekerja keras belajar, biar nanti kalo sudah besar dapat pekerjaan yang enak, jadi PNS, pegawai dan seterusnya dan seterusnya. Kata-kata pekerja dan pekerjaan yang selalu diulang-ulang inilah secara tidak langsung dan tanpa disadari telah melekat pada mind set setiap orang di Indonesia. Orang Indonesia (termasuk mahasiswa) lebih bangga menjadi pegawai di perusahaan-perusahaan swasta khususnya milik Asing daripada menjadi seorang pengusaha. Lebih bangga menjadi PNS dengan seragam dan keterikatannya daripada menjadi wirausahawan.
Mind set orang indonesia telah ditekuk-tekuk menjadi pencari pekerjaan dengan tumpukan lamaran pekerjaan yang selalu disiapkan. Otaknya dipenuhi dengan pencarian lowongan pekerjaan. Stabilonya habis untuk menandai lowongan-lowongan di koran. Kreativitasnya mati oleh animo bahwa pekerjaan adalah segalanya. Seragam suatu instansi menjadi ajang gengsi. Bahkan untuk sekedar seragam dan formalitas suatu karir, tidak jarang dikeluarkan sejumlah uang (suap). Dalam islam, penyuap dan yang disuap akan bersama-sama masuk neraka. Dan dalam agama apa pun, yang namanya kecurangan adalah kesesatan. Kemudian untuk mengembalikan pengorbanan puluhan bahkan ratusan juta yang dikeluarkan untuk penyuapan, tentunya mencari-cari dengan berbagai cara. Biasanya menggelapkan dana, tapi ini cara paling tidak intelek. Yang lebih rapi adalah korupsi terstruktur pada proyek-proyek di instansi tersebut.
Ya contoh sepelenya adalah proyek pengaspalan jalan. Korupsinya jelas terstruktur dan mengakar kuat. Dari pemerintah pusat saat dana turun, misalkan 20 Milyar Rupiah, enuju ke pemerintah daerah sudah jelas ada pemangkasan dana, setidaknya alasan ini itu untuk kelancaran turunnya dana. Pemda ke pemkot juga sama, sunat dana berlanjut. Pemkot ke Kecamatan, Kecamatan ke Kelurahan, Kelurahan ke pelaksana proyek, sampai pada mandor dan tukang aspalnya juga nyunat dana, kalau pekerja biasanya nyuri semen atau apalah yang lebih mudah. Aspal yang mestinya tebal 15 Cm, bisa-bisa tinggal 1,5 Cm. Terbukti dari jalan-jalan yang biasa baru diaspal beberapa minggu bahkan hari kemudian akan bolong-bolong.
Itu baru contoh kecil, sedangkan tiap Dinas pasti ada puluhan proyek. Proyek masih juga dipermainkan oleh mafia tender dan mafia-mafia kecil lainnya. Ini semua sudah mengakar dan terstruktur. Salah satu penyebabnya adalah konsep berfikir yang salah mengenai tujuan hidup, yakni pekerjaan. Ya memang ujung-ujungnya juga duit. Lalu apa bedanya?? Coba kita analogikan sejenak, pernahkah kita menyukai seseorang? kemudian kita pura-pura meminjam buku atau apalah agar bisa semakin dekat dengannya?? Sebenarnya tujuan kita buku tersebut ataukah orang yang kita sukai?? Nah itulah analogi pekerjaan dan uang. Tujuan utama adalah uang, sedangkan pekerjaan adalah salah satu media.
Sama seperti buku pada kasus di atas, pekerjaan hanyalah salah satu dari sekian banyak cara mendapatkan uang. Bisa berdagang, wirausaha, saham, investasi lainnya dan masih banyak lagi jalan. Tentunya yang halal yang kita bahas di sini. Konsep berpikir yang hanya terbatas pada pencarian pekerjaan benar-benar mematikan kreasi. Membuat orang tergantung pada sesuatu. Termangu menunggu gaji. Memang sudah jelas dan tetap, tapi nilainya ya segitu saja. Tidak ada dinamika yang bisa dikatakan pencapaian luar biasa. Maka dari itulah, mari menjadi pemuda yang MATA DUITAN, jangan menjadi pemuda yang MATA KERJAAN. Lebih-lebih mata keranjang atau lebih jelek lagi mata sablukan (alat masak nasi).
Semangat untuk pemuda Indonesia!!!
Minggu, 01 Januari 2012
Pemuda Dalam Kesesatan
Coba lihatlah foto kedua anak muda ini. Ini memang bukan foto anak Indonsia. Namun di Indonesia sendiri yang seperti ini akan sangat mudah kita jumpai di perempatan-perempatan atau sudut-sudut kota yang jarang dijamah. Kelompok ini didominasi dari strata kurang mampu. Kerjaannya mengamen, membuat kerusuhan, mencuri, mabuk dengan lem. Memang tidak semuanya demikian, tetapi sebagian besar seperti itu. Untuk makan mereka mencari di tempat-tempat sampah, lalu meludah bersama dan mereka aduk makanan itu kemudian disantap bersama.
Hari-hari mereka terisi dengan tawa dan kesenangan semu. Kebanggaan mereka terhadap solidaritas kelompoknya hanyalah sebuah pelarian atas ketidak adilan atau tidak adanya perhatian untuk mereka. Mereka merasa itulah jati dirinya. Padahal jalan mereka masih panjang. Mungkin orang tuanya berpendidikan rendah dan tidak mau tahu jadi apa anaknya, tapi bangsa ini mengharapkan mereka untuk sebuah perubahan ke arah yang lebih baik. Bangsa ingin mereka menjadi para pemimpin dan pemuda sukses. Bukan malah menjadi beban dan pekerjaan tambahan bagi polisi dan satpol PP untuk berlerian mengejar mereka. Lalu membebani Dinas Sosial untuk memikirkan makan dan tempat tinggal serta sarana rehabilitasi mereka.
Saudaraku pembaca sekalian, saya tidak membenci mereka. Justru saya ingin mengajak saudara untuk mencintai mereka. Mencintai tanpa ada kedengkian. Mereka juga manusia dan pasti butuh kasih sayang. Penulis pun pernah terjun bersama mereka. Penulis pernah menjadi salah satu gangster yang banyak berhubungan dengan mereka komunitas punk dan anak-anak nakal. Kini misi penulis adalah mengajak mereka pada sebuah pencerahan yang akan membawa mereka pada ketenangan hati yang sejati. Menyelamatkan mereka dari kesesatan. Mengajak mereka membangun bangsa. Mereka adalah saudara kita yang wajib kita perhatikan dan kita sayangi.
Jika mereka tidak ada yang mempedulikan, 5-10 tahun lagi, akan jadi apa bangsa ini? Sedang jumlah pemuda itu sangat banyak, sementara orang tua akan semakin sedikit termakan usia. Kita harus memikirkan, ketika mereka sudah beranjak tua, bagaimana nasib mereka? Apakah mereka masih memiliki cukup kekuatan untuk berjalan dan berhura-hura? Jika mampu, dari mana mereka mandapatkan sumber materi? Dari mencuri? Merampas? Merampok? Jika iya, maka suatu saat mereka akan tertangkap. Masuk penjara, lalu dihajar oleh setiap polisi dan senior di penjara. Menambah anggaran negara untuk makan mereka. Sekali lagi mereka menjadi beban negara.
Mulai dari yang terkecil, saudara kita, anak kita, cucu kita, atau tetangga kita yang masih muda. Perhatikan dan bimbing mereka untuk menjadi pemuda berkarakter mulia. Menjadi tonggak-tonggak tegaknya tatanan negara yang kokoh lagi sentausa. Pemuda saat ini adalah pemimpin di masa yang akan datang, beginilah pepatah Arab mengatakan. Dan memang benar, siapa lagi penerus perjuangan suatu negara jika bukan pemudanya. Mari selalu berdoa untuk kebaikan dan kelurusan jalan para pemuda di dunia khususnya di Indonesia. Semoga Tuhan senantiasa memberikan pencerahan dan bimbingan pada mereka.
Rabu, 14 Desember 2011
SOEMPAH PEMOEDA
SOEMPAH PEMOEDA
Pertama :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA
Pertama :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA
Kedua :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA
Ketiga :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA
Djakarta, 28 Oktober 1928
Teks Soempah Pemoeda dibacakan pada waktu Kongres Pemoeda yang diadakan di
Waltervreden (sekarang Jakarta) pada tanggal 27 - 28 Oktober 1928 1928.
Waltervreden (sekarang Jakarta) pada tanggal 27 - 28 Oktober 1928 1928.
Panitia Kongres Pemoeda terdiri dari :
Ketua : Soegondo Djojopoespito (PPPI)
Wakil Ketua : R.M. Djoko Marsaid (Jong Java)
Sekretaris : Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond)
Bendahara : Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond)
Pembantu I : Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond)
Pembantu II : R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia)
Pembantu III : Senduk (Jong Celebes)
Pembantu IV : Johanes Leimena (yong Ambon)
Pembantu V : Rochjani Soe'oed (Pemoeda Kaoem Betawi)
Peserta :
Wakil Ketua : R.M. Djoko Marsaid (Jong Java)
Sekretaris : Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond)
Bendahara : Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond)
Pembantu I : Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond)
Pembantu II : R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia)
Pembantu III : Senduk (Jong Celebes)
Pembantu IV : Johanes Leimena (yong Ambon)
Pembantu V : Rochjani Soe'oed (Pemoeda Kaoem Betawi)
Peserta :
-
Abdul Muthalib Sangadji
-
Purnama Wulan
-
Abdul Rachman
-
Raden Soeharto
-
Abu Hanifah
-
Raden Soekamso
-
Adnan Kapau Gani
-
Ramelan
-
Amir (Dienaren van Indie)
-
Saerun (Keng Po)
-
Anta Permana
-
Sahardjo
-
Anwari
-
Sarbini
-
Arnold Manonutu
-
Sarmidi Mangunsarkoro
-
Assaat
-
Sartono
-
Bahder Djohan
-
S.M. Kartosoewirjo
-
Dali
-
Setiawan
-
Darsa
-
Sigit (Indonesische Studieclub)
-
Dien Pantouw
-
Siti Sundari
-
Djuanda
-
Sjahpuddin Latif
-
Dr.Pijper
-
Sjahrial (Adviseur voor inlandsch Zaken)
-
Emma Puradiredja
-
Soejono Djoenoed Poeponegoro
-
Halim
-
R.M. Djoko Marsaid
-
Hamami
-
Soekamto
-
Jo Tumbuhan
-
Soekmono
-
Joesoepadi
-
Soekowati (Volksraad)
-
Jos Masdani
-
Soemanang
-
Kadir
-
Soemarto
-
Karto Menggolo
-
Soenario (PAPI & INPO)
-
Kasman Singodimedjo
-
Soerjadi
-
Koentjoro Poerbopranoto
-
Soewadji Prawirohardjo
-
Martakusuma
-
Soewirjo
-
Masmoen Rasid
-
Soeworo
-
Mohammad Ali Hanafiah
-
Suhara
-
Mohammad Nazif
-
Sujono (Volksraad)
-
Mohammad Roem
-
Sulaeman
-
Mohammad Tabrani
-
Suwarni
-
Mohammad Tamzil
-
Tjahija
-
Muhidin (Pasundan)
-
Van der Plaas (Pemerintah Belanda)
-
Mukarno
-
Wilopo
-
Muwardi
-
Wage Rudolf Soepratman
-
Nona Tumbel
Catatan :
Sebelum pembacaan teks Soempah Pemoeda diperdengarkan lagu"Indonesia Raya"
gubahan W.R. Soepratman dengan gesekan biolanya.
Sebelum pembacaan teks Soempah Pemoeda diperdengarkan lagu"Indonesia Raya"
gubahan W.R. Soepratman dengan gesekan biolanya.
- Teks Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 bertempat
di Jalan Kramat Raya nomor 106 Jakarta Pusat sekarang menjadi Museum Sumpah
Pemuda, pada waktu itu adalah milik dari seorang Tionghoa yang bernama Sie
Kong Liong. - 2. Golongan Timur Asing Tionghoa yang turut hadir sebagai peninjau
Kongres Pemuda pada waktu pembacaan teks Sumpah Pemuda ada 4 (empat) orang
yaitu :
a. Kwee Thiam Hong
b. Oey Kay Siang
c. John Lauw Tjoan Hok
d. Tjio Djien kwie



17.06
Unknown



